Showing posts with label Konveksi Seragam. Show all posts
Showing posts with label Konveksi Seragam. Show all posts

Friday, June 22, 2012

KOI Resmi Merilis Set Seragam Kontingen Indonesia Untuk Olimpiade 2012


Olimpiade London 2012

KOI Resmi Merilis Set Seragam Kontingen Indonesia Untuk Olimpiade 2012 Komite Olimpiade Indonesia (KOI) akhirnya resmi merilis seragam yang akan dikenakan oleh serluruh kontingen Indonesia saat melakukan defile pada pembukaan Olimpiade 2012 nanti. Seluruh desain pakaian yang akan dikenakan oleh para atlet merupakan pakaian karya desainer lokal, Yani N Soemali.

Hal ini merupakan sebuah bentuk apresiasi dukungan yang diberikan para desainer Indonesia bagi para atlet Indonesia yang akan berjuang pada Olimpiade 2012.

Desain yang disiapkan juga berjumlah beberapa desain, ada yang dipakai untuk saat saat formal dan ada juga yang digunakan saat kita sedang bersantai. Pihak KONI juga berencana akan mencoba untuk mengkomersilkan model baju formal para atlet Indonesia. Harganya diperkirakan akan mencapai Rp1,5 juta sampai dengan Rp2 juta untuk setiap potongnya. Baju baju batik tersebut akan KONI jual di festival Pekan Raya Jakarta (PRJ).

Untuk pakaian bertanding yang akan dikenakan oleh para kontingen asal Indonesia, KOI telah menggandeng League sebagai penyedia pakaian bertanding dengan nilai sponsor sebesar antara Rp1 Miliar sampai Rp2 Miliar.

KOI juga mengaku telah menyiapkan model beskap dan kebaya bagi seragam resmi kontingen putri Indonesia. Khusus untuk kebaya akan berbentuk kutubaru yang terinsipirasi dari pakaian keseharian pahlawan nasional, Raden Ajeng (RA) Kartini.  Kedua pakaian ini adalah salah satu jenis pakaian tradisional khas Indonesia. Diharapkan nanti, para atlet putri dapat berjuang dan menang di ajang Olimpiade dengan semangat juang yang dimiliki oleh Ibu Kartini.

Batik yang digunakan mempunyai motif Sekar Jagat. Pemilihan motif ini juga bukan tanpa alasan. Motif Sekar Jagat disesuaikan dengan harapan masyarakat Indonesia terhadap perjuangan para atlet di Olimpiade London 2012 nanti. Sekar sendiri berarti bunga dan jagat berarti dunia. Ini seperti harapan masyarakat Indonesia agar atlet Indonesia menjadi bunga-bunga Indah di ajang Olimpiade.

Wednesday, June 20, 2012

Tahun Ajaran Baru Yang Menyenangkan Bagi Konveksi Seragam (Bagian 2)


Konveksi
Seragam MI

Tahun Ajaran Baru Yang Menyenangkan Bagi Konveksi Seragam (Bagian 2) Karena permintaan yang terus mengalir, dia terpaksa bekerja lembur dengan menambah tenaga kerja dari tujuh orang menjadi empat belas orang. Biasanya kalau di pagi hari mereka akan kirim barang, mereka semua terpaksa harus bekerja lembur bahkan terkadang sampai pagi menyingsing.

Etika (28) adalah salah satu perajin seragam sekolah lainnya. Etika mengatakan dengan seiring meningkatnya permintaan seragam, harga seragam sekolah juga kini naik sekitar Rp 3.000 per potong. Saat ini, rata-rata harga seragam bagian atas sekitar 25.000 hingga Rp 30.000 per potong, tergantung ukuran yang digunakan.

Apabila dijual dengan sistem kodian, harga per kodi sekitar Rp 450.000  hingga Rp 550.000 per kodi. Sementara harga seragam bagian bawah dijual sekitar Rp 21.000 hingga Rp 25.000 per potong.

Menurut Etika, selain karena meningkatnya permintaan, kenaikan harga seragam juga diakibatkan oleh naiknya harga bahan baku sekitar 20 persen. Sebagai contoh, harga kain jenis oxpot yang sebelumnya Rp 15.000 per meter, saat ini mencapai Rp 18.000 per meter.

Peningkatan permintaan juga dialami Muzanif (35), pemilik usaha konveksi seragam sekolah lainnya di Desa Tembok Lor. Saat ini pesanan yang ia terima mencapai 120 kodi setiap pekan, padahal biasanya hanya 10 kodi per pekan.

Selama ini, ia hanya memproduksi seragam bagian bawah, yang dijual di Tegal Gubug, Cirebon. Permintaan mulai meningkat sejak awal Mei tahun ini. Dalam mengantisipasi peningkatan permintaan tersebut, Muzanif, menyimpan produksi sejak September 2011. Meskipun demikian, semua stok produksinya sudah habis sejak awal bulan Juni yang lalu. Saat ini ia malah mengaku kewalahan menghadapi permintaan yang masih saja terus mengalir.

Tahun Ajaran Baru Yang Menyenangkan Bagi Konveksi Seragam (Bagian 1)


Konveksi Seragam Sekolah
Seragam Sekolah

Tahun Ajaran Baru Yang Menyenangkan Bagi Konveksi Seragam (Bagian 1) Tahun ajaran baru tidak lama lagi akan segera datang. Menjelang tahun ajaran baru ini, sejumlah perajin konveksi seragam sekolah di wilayah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah kebanjiran pesanan. Salah satu dari para pengusaha konveksi itu adalah yang dialami oleh para perajin di kompleks industri pakaian jadi Desa Tembok Lor, Kecamatan Adiwerna.

Permintaan seragam sekolah yang mereka terima meningkat hingga lima kali lipat apa bila dibandingkan dengan hari hari biasa. Mebludaknya pesanan membuat sejumlah perajin terpaksa lembur dan menambah jumlah karyawan yang bekerja.

Dukho adalah salah satu pemilik usaha konveksi di Desa Tembok Lor. Dukho mengatakan bahwa permintaan seragam sekolah mulai meningkat sejak awal Mei lalu. Dan permintaan terbesar berasal dari daerah Cirebon, Jawa Barat.

Apa bila pada hari hari biasa permintaan seragam sekolah hanya sekitar 10 kodi untuk setiap pekannya, namun saat ini pesanan mencapai 50 kodi per pekan. Selain seragam SD, SMP, dan SMA, Dukho juga memproduksi seragam pramuka untuk ketiga jenjang sekolah tersebut.

Pemasaran seragam sekolah sendiri dilakukan ke pasar di wilayah Cirebon, yaitu pasar Gebang, Mundu dan Celancang. Selain itu juga terdapat sejumlah pedagang pakaian yang sengaja datang untuk mengambil pakaian seragam produksinya.

Menurut Dukho, peningkatan permintaan seragam sekolah selalu terjadi menjelang tahun ajaran baru. Karena sudah terbiasa dengan hal ini, dia pun mempersiapkan produksi sejak lebih dari enam bulan yang lalu.

Bersambung

Kebijakan Wali Kota Padang Merugikan Pengusaha Konveksi (Bagian 3)


Konveksi
Seragam Pramuka

Kebijakan Wali Kota Padang Merugikan Pengusaha Konveksi (Bagian 3) Untuk mengkaver jumlah seragam yang relatif besar ini, para pengusaha konveksi tentunya juga akan melibatkan mitra-mitra kerjanya yang lain. Sehingga, ini bisa merangsang pertumbuhan usaha kecil dan mikro yang lainnya.

Ketua Puskolah Padang menegaskan, hingga kini sudah ada lima pengusaha konveksi yang menyatakan kesediaannya dalam program yang digalakan pemerintah ini. Salah satunya  adalah Family Konveksi yang bersedia menawarkan seribu stel seragam sekolah untuk dialokasikan di koperasi koperasi sekolah di Padang.

Untuk daerah Padang sendiri sudah hampir 95 persen SMP/SMA telah memiliki koperasi sekolah. Sedangkan SD, bisa mendapatkannya dari Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) di Unit Pelaksana Teknis (UPT) masing-masing kecamatan.

Bagi pengusaha konveksi yang bersedia untuk ikut serta dalam kebijakan pemerintahan ini, bisa mengajukan proposal ke pihak pemerintah paling lam¬bat pada 20 Juni mendatang. Sehingga, akhir bulan ini seragam tersebut sudah bisa didistribusikan ke seluruh koperasi sekolah di Padang.

Namun tetap saja pernyataan dari pihak koperasi sudah sangat terlambat dan bola panas sudah keburu bergulir. Lagipula, seandainya saja kebijakan ini disosialisasikan terlebih dahulu sebelum diterbitkan maka kontroversi ini tidak akan bergulir dan memanas di media massa Padang.

Pernyataan pihak koperasi agar para pengusaha konveksi mendaftarkan diri mereka untuk ikut serta dalam program pemerintahan ini juga terkesan terlambat. Karena kini sudah banyak konveksi yang gulung tikar dan sudah banyak para pengusaha konveksi yang keburu pesimistis dengan kebijakan ini. Mereka menilai hal ini hanya diperuntukkan untuk memperkaya dan memperbanyak pamasukan pihak PNS dan keluarganya karena mudah bagi mereka untuk membuat konveksi baru untuk ikut serta dalam program tanpa sosialisasi yang cukup ini.



Kebijakan Wali Kota Padang Merugikan Pengusaha Konveksi (Bagian 2)


Konveksi
Konveksi Kecil

Kebijakan Wali Kota Padang Merugikan Pengusaha Konveksi (Bagian 2) Meski tak mewajibkan siswa membeli seragam di koperasi sekolah, namun adanya imbauan wako kepada seluruh kepala sekolah, membuat sebagian orangtua merasa pesimis. Mereka takut jika tak membeli seragam di sekolah, maka anaknya akan bermasalah di sekolahnya. Kepala sekolah pun takut jika tak menjalankan imbauan wako maka mereka akan mendapatkan peringatan dari pemerintah. Psikologis seperti ini sudah sangat lumrah sekali bagi KPP.

Hal senada juga dikatakan oleh salah seorang pedagang konveksi di Sungaisapih, Kuranji. Dia mem punyai 50 orang karyawan dan terpaksa memulangkan seluruh karyawannya. Hal ini terpakasa dia lakuakan karena tidak ada order yang masuk pada konveksinya. Bila memaksakan diripun dia bingung dengan apa nantinya dia akan membayar mereka. Sehingga para pedagang meminta Pemko untuk mengkaji kembali kebijakan ini.

Menanggapi hal itu, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kembali menjelaskan bahwa pengelolaan pakaian seragam melalui koperasi ini memiliki tujuan mulia yaitu untuk meringankan beban warga yang kurang mampu. Pihak UMKM menegaskan bahwa mereka tidak memaksa para siswa untuk membeli Seragam di koperasi sekolah. Jika mereka ingin beli di luar, tidak akan menjadi masalah apapun.

Staf ahli bidang pemerintahan menambahkan bahwa Pemko akan memfasilitasi Pusat Koperasi Sekolah (Puskolah) dengan pengusaha konveksi di Padang. Program ter-sebut diharapkan akan merangsang tumbuhnya usaha kecil dan juga mikro.

Bersambung



Kebijakan Wali Kota Padang Merugikan Pengusaha Konveksi (Bagian 1)


Konveksi
Seragam Sekolah

Kebijakan Wali Kota Padang Merugikan Pengusaha Konveksi (Bagian 1) Himbauan wali kota Padang tentang pengelolaan seragam sekolah melalui koperasi sekolah masing masing mengundang keluhan dan kecaman dari sejumlah pedagang konveksi di Padang. Banyaknya keluhan  yang muncul, membuat Kesatuan Pedagang Pasar (KPP) angkat bicara. KPP meminta Pemko mem-batalkan rencana tersebut. KPP menilai Pemko tidak bersifat pro kepada para pedagang dan hanya ingin memperkaya kalangan PNS saja.

KPP mengakui bahwa kebijakan yang bertujuan untuk membantu para siswa kurang mampu ini adalah kebijakan yang baik. Namun menurut KPP cara yang digunakanlah yang merupakan cara yang tidak baik.

KPP berpendapat, bahwa permasalahan sis¬wa kurang mampu sudah ada yang mengurus, yakni Ba¬dan Amil Zakat (BAZ). Zakat yang dikum¬pul¬kan Bazda dalam hal ini dapat didistrubusikan untuk di¬perun¬tukkan bagi siswa yang kurang mam¬pu yang tidak mampu untuk membeli seragam.

KPP berharap wako bersikap arif da¬lam hal ini. Kasihan para pedagang. Mengingat sudah banyak pedagang yang sebelumnya sudah telanjur meminjam kredit untuk modal penyediaan baju seragam sekolah semester ini.

Imbauan yang diterbitkan Wako mengenai seragam yang dikelola koperasi sekolah cenderung terburu buru dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Padahal, dua tahun belakangan ini, wako pernah menegaskan bahwa sekolah tidak boleh untuk menjual seragam. Kebijakan sebelumnya KPP akui sebagai kebijakan yang pro terhadap pedagang. Namun kini, dengan keluarnya kebijakan ini, penilaian sebelumnya semuanya beru¬bah seratus delapan puluh derajat. Para pedagang dan KPP menarik kembali pandangan mereka pada wali kota Padang yang menyatakan bahwa mereka pro terhadap pemerintah.

Bersambung