Showing posts with label Peragaan Busana. Show all posts
Showing posts with label Peragaan Busana. Show all posts

Thursday, June 21, 2012

Budaya Peranakan Tiong Hoa Karya Trio APPMI (Bagian 4)


Busana MuslimBusana MuslimBusana Muslim

Busana MuslimBusana MuslimBusana Muslim
Budaya Peranakan Tiong Hoa Karya Trio APPMI (Bagian 4) Rudy Chandra banyak menampilkan koleksi baju dengan gaya cheongsam, cocktail dan juga evening dress dengan siluet yang mengikuti lekuk tubuh. Busananya juga banyak yang terdiri atas rok A-line, pencil skirt dan juga gaun panjang  yang memiliki siluet mermaid. Teknik lipit juga banyak diaplikasikan dalam koleksi cheongsam karya Rudy Chandra. Cheongsam tersebut ditampilkan dalam gaya yang lebih modern dengan tambahan bordir laser cut.


Rudy banyak menerapkan aplikasi rancangan berbentuk ornamen dengan menggunakan teknik bordir motif kerancang besar menggunakan laser cut. Di segmen terakhir ia menampilkan sebuah gaun pengantin yang terbuat dari kain songket. Gaun pengantin dari songket ini dipadukan dengan apik bersama sama aksesoris yang bergaya Betawi dan juga Tionghoa.

Material yang dipilih oleh Rudy Chandra antara lain jacquard, sutera sifon, sutera organza, batik lasem, brokat dan juga tafeta. Material itu menjadi kanvas dari warna cantik seperti warna warna merah tembaga, coklat keemasan, emas dan biru.

Walaupun memiliki sumber inspirasi yang sama dan juga tema yang serupa, namun trio desainer ini tetap memiliki ciri khas aplikasi busana kontemporer yang berbeda satu sama lainnya. Hal ini adalah sangat wajar terjadi, karena pada dasarnya kreatifitas setiap individu adalah berbeda beda. Keberanian mereka bertiga dalam menciptakan mode ala kreatifitas merekalah yang membuat mereka berbeda satu sama lainnya.
Dunia peragaan busana dan desain krida yang kreatif memang menarik untuk ditelusuri karena walaupun para desainer terinspirasi oleh karya yang sama, mereka belum tentu menghasilkan karya yang sama pula.

Budaya Peranakan Tiong Hoa Karya Trio APPMI (Bagian 3)


Busana MuslimBusana MuslimBusana Muslim

Busana MuslimBusana MuslimBusana Muslim
Budaya Peranakan Tiong Hoa Karya Trio APPMI (Bagian 3) Inspirasi ini diangkatnya dalam rangkaian cerita perjalanan cinta dua manusia dari dua latar budaya yang berbeda. Untuk menghadirkan sisi gelap dan misterius ini, Deden banyak mengaplikasikan warna warna gelap dalam 25 set busana laki-laki dan perempuan. Warna warna yang digunakan oleh Deden antara lain warna coklat, biru tua, emas, abu-abu,dan juga merah pekat. Busana yang dihadirkan oleh Deden ini menggambarkan berbagai hal yang mendobrak tradisi, seperti penggunaan siluet dan motif asimetris.

Deden banyak menggunakan teknik layering seperti digital print, hand painting dan steaming pada busana hasil karyanya. Hal ini dia lakukan untuk menggambarkan kesan edgy namun juga tetap feminin. Teknik ini digunakan untuk menghasilkan kain dengan efek siluet berdimensi dan lebih menonjolkan tekstur aplikasi yang digunakannya.

Salah satu ciri khas Deden adalah penggunaan aplikasi yang sangat detail. Ia memberikan sentuhan bordir dengan tambahan payet dan manik-manik untuk memberikan efek tiga dimensi yang elegan. Untuk menghasilkan busana yang ringan ia menggunakan material seperti batik, organza, suede dan voil.

Sedangkan Rudy Chandra banyak mendapatkan inspirasinya dari kebaya encim dan ornamen di ukiran keramik China. Maka Rudy banyak menghadirkan ornament onament tersebut dalam koleksi peranakan nya kali ini. Ornament ornament tersebut ditampilkan Rudy mulai dari tekstur sampai dengan warna. Rudy menghadirkan 25 potong busana yang simpel, feminin dan elegan dengan tujuan untuk menonjolkan kharisma yang dimiliki olerh seorang perempuan dewasa, matang dan juga penuh percaya diri.

Bersambung

Budaya Peranakan Tiong Hoa Karya Trio APPMI (Bagian 2)


Busana MuslimBusana MuslimBusana Muslim

Busana MuslimBusana MuslimBusana Muslim
Budaya Peranakan Tiong Hoa Karya Trio APPMI (Bagian 2) Kemeriahan dan energi positif dalam pengharapan ini diungkapkan dalam busana busana yang bergaya feminin sekaligus romantis. Jeany menampilkan dua puluh lima set busana yang terbagi ke dalam tiga buah sesi. Sesi pertama menampilkan tujuh mini dress; lalu sembilan kebaya peranakan di sesi kedua dan sembilan gaun malam di sesi ketiga.


Ketiga sesi yang dihadirkan oleh Jeanny tersebut banyak memadukan atasan tanpa lengan dan juga atasan berlengan pendek yang digabungkan bersama dengan rok mini bervolume sampai dengan rok pensil. Gaya rok panjang asimetris juga terlihat dalam koleksi busananya ini.  Selain itu ia juga banyak menghadirkan koleksi gaun malam panjang dengan siluet yang membentuk tubuh dan aksen mermaid di bagian bawah busananya.

Untuk menonjolkan karakter desainnya yang cantik dan feminin, ia banyak menggunakan aplikasi bordir yang berbentuk bunga sehingga menghasilkan efek tiga dimensi yang mencolok. Material yang dipilih untuk sebagian besar busananya adalah kain yang dicetak khusus sehingga memiliki motif yang sama pada kedua sisinya. Beberapa material lain yang digunakan antara lain tulle, organza, sutera dan juga satin silk.

Jika Jeanny banyak bercerita tentang keindahan dan keceriaan budaya peranakan, Deden Siswanto memilih untuk menghadirkan sisi gelap dari budaya ini. Dalam perkembangannya, proses asimilasi punya sisi gelap, misterius, dan seringkali berbenturan dengan tradisi dan kebiasaan masyarakat setempat dan fakta inilah yang menjadi inspirasi dari karya milik Deden Siswanto.

Bersambung

Budaya Peranakan Tiong Hoa Karya Trio APPMI (Bagian 1)


Busana MuslimBusana MuslimBusana Muslim

Busana MuslimBusana MuslimBusana Muslim
Budaya Peranakan Tiong Hoa Karya Trio APPMI (Bagian 1) Mendapatkan insipirasi dari kekayaan dan keunikan budaya peranakan, sebanyak  tiga orang desainer yang tergabung dalam Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), menggelar pagelaran busana yang bertema "Beauty Treasure". Para perancang busana tersebut adalah Jeanny Ang, Deden Siswanto dan juga Rudy Chandra. Pagelaran ini tercetus dari kekaguman mereka terhadap keharmonisan percampuran budaya antara Indonesia dan China.


Ide ini tercipta ketika mereka bertiga pergi ke Museum Peranakan di Singapura. Mereka melihat sebuah fakta bahwa Indonesia mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan budaya peranakan. Ide tersebut mereka wujudkan dalam peragaan busana yang mengangkat pengaruh busana peranakan untuk gaya berbusana modern masa kini.

Sebenarnya, ketiga desainer ini memiliki interpretasi yang berbeda dalam menerjemahkan budaya peranakan. Dalam fashion show, mereka menghadirkan koleksi busana peranakan yang dikemas dari sudut pandang, style dan spesialisasi mereka masing masing.

Tidak hanya itu saja, mereka juga mempunyai versi cerita masing masing tentang budaya peranakan. Berbagai versi cerita tersebut dihadirkan dalam satu rangkaian cerita yang saling berkaitan. Cerita tersebut menggambarkan tahap tahap kehidupan manusia. Satu kesamaan desain yang dihadirkan oleh ketiga desainer ini terlihat dalam penggunaan bordir yang berguna untuk mempertegas ciri Tionghoa dari busana busana mereka.

Fashion show dari trio desainer tersebut dibuka dengan memperagakan koleksi busana milik Jeanny Ang. Busana milik Jeany hadir dalam pilihan warna-warna busana cerah seperti pink, biru, kuning, hijau dan oranye. Koleksi ini Jeany peruntukkan bagi kaum muda. Busana ini terinspirasi dari festival lentera dalam budaya ChIna yang melambangkan pengharapan dalam cinta, hubungan manusia yang lebih baik, hubungan dengan alam, rejeki dan juga pengharapan dalam kualitas hidup suatu individu.

Bersambung