Fathiyya collection chic'k stuff - Busana muslim dan busana tunik serta busana gamis- pokonya busana perwanitaan kami buat dan kami distribusikan
Wednesday, August 1, 2012
Kreativitas dan Eksklusifitas Cultura ala Yuza [Bagian 1]
Kreativitas dan Eksklusifitas Cultura ala Yuza - Yusak Maulana atau yang lebih dikenal dengan sebutan Yuza memiliki strategi khusus dalam memproduksi pakaian batiknya. Yuza sengaja memproduksi berbagai jenis busana ready to wear atau pakaian siap guna. Namun, untuk menjaga keunikan cultura yang diproduksinya, Yuza hanya membuat bajunya empat buah untuk setiap model, masing-masing satu buah untuk masing-masing ukuran.
Cara ini digunakan Yuza untuk menjaga ekslusivitas yang dimiliki oleh cultura. Eksklusivitas inilah yang menjadi daya tarik cultura di mata bagi para penggunanya. Selain itu, Yuza tidak lupa memberikan sentuhan khas Kudus sehingga busana yang diproduksinya berbeda dengan busana sejenis lainnya. Adapun bahan yang digunakan adalah perpaduan antara kain tradisional asli Indonesia, seperti halnya batik ataupun tenun dengan bahan motif polos, garis garis, kotak kotak dari jenis katun, sifon ataupun sutera. Sementara dari jenis batiknya, Yuza konsisten hanya menggunakan batik tulis atau batik cap.
Yuza menghindari pemakaian batik printing atau sablon buatan pabrik. Hal ini diupayakan untuk mengangkat ekonomi pengrajin pengrajin batik tradisional yang asli. Demikian pula untuk kain tenun yang ia gunakan,Yuza hanya menggunakan tenun tradisional yang asli dan ditenun secara manual, bukan kain yang di print dengan menggunakan motif tenun. Dengan begitu, Cultura mempunyai karakter tersendiri dalam menyisir target pasar yang spesifik antara usia 20 sampai dengan 30 tahun, yang memang senang menunjukkan keindonesiaan mereka melalui busana yang dikenakan. [pk/ya]
Selanjutnya
Kreativitas dan Eksklusifitas Cultura ala Yuza [Bagian 2]
Kreativitas dan Eksklusifitas Cultura ala Yuza - Meski terasa kesan kulturnya, guratan desain Yuza tetap dikemas dalam bentuk lebih modern sesuai perkembangan mode zaman sekarang. Sebenarnya Yuza sudah mulai bisnis busananya sejak tahun 2008 yang lalu, ketika ia baru mendapatkan gelar sarjana teknologi industri. Yuza kemudian pulang kampung ke Kudus dan mendapatkan dukungan secara moral dari adik Yuza satu satunya untuk melanjutkan usaha dengan hanya mengandalkan modal nekat.
Dalam setiap rancangannya, Yuza membuat konsep dengan mengkombinasikan motif bordir khas Kudus dengan motif-motif bordir kuno yang diadopsi dari kebaya Melayu dan motif etnis Tionghoa. Dengan bertambahnya pengetahuan dan kreativitasnya, dia mulai menikmati perjalanan eksplorasi berbisnis batik yang lalu dijualnya pada kisaran harga antara Rp.80.000 sampai Rp.500.000 untuk setiap helainya.
Untuk terus mengembangkan bisnis pakaian batiknya,Cultura terus melakukan promosi. Promosi nya sendiri dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari bazar yang dielenggarakan dari mal satu ke mal lainnya,menjadi sponsor beberapa kelompok musik, hingga mengirimkan pesan broadcasting pada berbagai media sosial. Upaya tersebut akhirnya berhasil menaikkan pendapatan Yuza, yang setiap bulannya bisa mengantongi paling tidak Rp.10 juta sampai Rp.15 juta
Tapi Yuza merendah dengan mengatakan bahwa semua hasil kerja kerasnya itu hanyalah sebatas pada angka. Hal yang terpenting bagi seorang Yuza adalah dedikasi untuk terus mencintai budaya negeri sendiri dan tetap komitmen untuk terus membantu banyak orang. Bagi Yuza, dua hal itu telah menjadi sesuatu yang tak ternilai harganya. [pk/ya]
Polychomelab Smart Jacket, Sebuah Jaket Multi Cuaca
Polychomelab Smart Jacket, Sebuah Jaket Multi Cuaca - Jaket merupakan pakaian wajib bagi orang di daerah dingin. Namun kini, pemanasan global sedang terjadi, perubahan iklim yang tidak terduga sudah biasa kita alami. Perubahan iklim ini yang sering akhirnya membuat membuat kita kesulitan mengetahui jaket apa yang cocok untuk dikenakan untuk hari ini. Pasti akan sangat menjengkelkan ketika kita menggunakan cardigan tipis dan ternyata turun hujan lebat. Atau, menggunakan jaket tebal tetapi matahari malah bersinar terang.
Tak hanya itu, perbedaan cuaca juga kerap kali membuat kita menghabiskan lebih banyak uang untuk membeli jaket-jaket sesuai cuaca. Melihat kondisi ini, sebuah produsen jaket membuat jaket multifungsi yang dapat berguna di segala cuaca. Mendinginkan ketika panas, menghangatkan ketika dingin.
Adalah Polychomelab Smart Jacket, jaket pintar multifungsi yang dilengkapi dengan teknologi polikrom. Pengembangnya, seperti dilansir Bangstyle, adalah Michele Stinco. Ia menggunakan bahan polikrom yang memiliki tiga karakteristik utama yakni refleksi, absorbsi, dan adaptasi.
Dengan desain khas jaket olahraga, Polychromelab dibuat dari tiga lapisan kain yang menawarkan fungsi pemanasan. Seiring dengan fungsi pemanasan, jaket ini juga terbuat dari bahan yang membungkinkan kulit untuk bernapas, tetapi juga anti air. Dalam cuaca dingin, jaket dipakai dengan kain berwarna hitam berada di bagian luar. Kain berwarna hitam berfungsi untuk menyerap panas dari matahari dan bahan silver di bagian dalam menahan panas dari tubuh pengguna.
Sedangkan, dalam keadaan cuaca panas, jaket dipakai dengan kain berwarna silver berada di bagian luar. Kain berwarna silver akan memantulkan panas dari lingkungan membuat Anda tetap merasa nyaman. Kedua sisi jaket terbuat dari kain polikrom yang lembut dan nyaman. Kain ini diklaim mampu memberikan dua sampai tiga derajat lebih dingin atau panas pada orang yang menggunakannya. [pk/ya]
Dari Jilbab Lukis Kini Menuju Kain Lukis [Bagian 1]
Dari Jilbab Lukis Kini Menuju Kain Lukis - Pernahkah anda berkunjung ke pusat perbelanjaan dan ditawarkan sebuah kreasi mode eksklusif bernama jilbab lukis? Ya, Jilbab Lukis adalah sebuah hasil ujicoba pasar yang dilakukan oleh Kecacil Production.
Sekarang ini, setelah berhasil meraup sukses dengan menembus pasar domestik lewat jilbab lukis mereka, pemilik Kecacil Production, Yani Mardiyanto, kini memperlebar sayapnya ke kain lukis. Dengan produk berharga Rp200.000/potong ini, Yani tak hanya mampu menaklukkan pasar domestik, melainkan merambah Singapura. Padahal umur usaha kain lukis yang dia garap bersama empat orang pelukis kain tersebut baru berjalan tiga bulan.
Ide membuat kain lukis berawal dari kesuksesan usaha jilbab lukis yang telah digarap sejak tahun lalu. Yani berpikir untuk mengembangkan usaha ke produk fashion lain, berupa kain. Akhirnya dengan mencoba-coba, dia menemukan jenis kain yang cocok dikenakan di badan sekaligus cocok dilukis. Sejak tiga bulan lalu, dia mulai memproduksi kain jenis sifon lukis.
Untuk saat ini, Yani baru mampu memproduksi 300 potong kain yang memiliki ukuran lebar 110 cm dan juga panjang 1,75-3 cm untuk setiap pekan nya. Bahan kain pun terus mengalami perkembangan. Tidak hanya menggunakan sifon saja, melainkan menggunakan juga bahan lain yang dirasa cocok untuk dilukis.
Beda kain tentu beda cat. Jadi mereka harus pintar dalam mencari kombinasi cat agar cocok saat dilukiskan di atas kain. [pk/ya]
Selanjutnya
Dari Jilbab Lukis Kini Menuju Kain Lukis [Bagian 2]
Dari Jilbab Lukis Kini Menuju Kain Lukis - Beda kain tentu beda cat. Jadi mereka harus pintar dalam mencari kombinasi cat agar cocok saat dilukiskan di atas kain. Sejauh pengalaman mereka melukis kain, sifon memang merupakan bahan kain yang paling bagus.
Pengerjaan kain lukis diakuinya membutuhkan keahlian khusus. Hanya pelukis terlatih yang bisa mengerjakan produksi kain tersebut. Pasalnya, dia menjelaskan lukisan pada kain dibuat cukup besar. Pusat lukisan biasanya berupa bunga dengan ukuran paling besar. Selanjutnya pelukis harus membuat kreasi lukisan memanjang searah dengan pusat bunga. Kombinasi warna lukisas bukan sembarangan, tapi harus mengikuti warna dasar kain.
Besar dan panjang lukisan menyesuaikan busana apa yang hendak dibuat. Menurut Yani, kain lukis bisa dijadikan busana wanita dengan model apapun. Bisa jadi kebaya, abaya, model kaftan, atau gamis, sesuai keinginan. Semua model mengikuti bentuk lukisan.
Belum lama ini, dia menerima pesanan 80 potong kain yang akan dipakai seragam penerima tamu di hajatan seorang pengusaha Solo. Bentuk dan warna lukisan dibuat seusai keinginan pemesan. Dalam waktu dekat untuk kian mengembangkan bisnisnya, Yani berencana meneken memorandum of understanding (MoU) dengan seorang desainer lokal untuk memproses kain lukis menjadi produk garmen siap pakai. Jika tidak ada kendala, MoU siap ditekan pekan depan.
Yani ingin mengembangkan usaha ini terus agar bisa memberi manfaat untuk lebih banyak masyarakat. Ada kemungkinan juga Yani melakukan kerja sama yang lain. [pk/ya]
Selanjutnya
Dari Jilbab Lukis Kini Menuju Kain Lukis [Bagian 3]
Dari Jilbab Lukis Kini Menuju Kain Lukis - Pusat lukisan biasanya berupa bunga dengan ukuran paling besar. Selanjutnya pelukis harus membuat kreasi lukisan memanjang searah dengan pusat bunga. Kombinasi warna lukisan juga tidak bisa sembarangan, tapi harus mengikuti warna dasar yang dimiliki kain.
Sehingga, untuk menghasilkan kain lukis, tidak sekedar diperlukan kemampuan melukis dan keterampilan menggunakan koas semata.
Besar dan panjang lukisan menyesuaikan busana apa yang hendak dibuat. Menurut Yani, kain lukis bisa dijadikan busana wanita dengan model apapun. Bisa jadi kebaya, abaya, model kaftan, atau gamis, sesuai keinginan. Semua model mengikuti bentuk lukisan.
Belum lama ini, dia menerima pesanan 80 potong kain yang akan dipakai seragam penerima tamu di hajatan seorang pengusaha Solo. Bentuk dan warna lukisan dibuat seusai keinginan pemesan. Dalam waktu dekat untuk kian mengembangkan bisnisnya, Yani berencana meneken memorandum of understanding (MoU) dengan seorang desainer lokal untuk memproses kain lukis menjadi produk garmen siap pakai. Jika tidak ada kendala, MoU siap ditekan pekan depan.
Yani ingin mengembangkan usaha ini terus agar bisa memberi manfaat untuk lebih banyak masyarakat. Ada kemungkinan juga Yani melakukan kerja sama dengan penjahit dari karang taruna setempat. Produk kain lukis Kecacil Production memang sangat cocok digunakan sebagai busana saat Lebaran. Yani mengakui dia sengaja mengambil momentum Ramadan dan Lebaran untuk memasarkan kain lukis. Saat ini, dia mengaku hampir kewalahan memenuhi pesanan. [pk/ya]
Jaket Anti Polusi Asal Negeri Kincir Angin
Jaket Anti Polusi Asal Negeri Kincir Angin - Polusi udara saat ini sudah menjadi “sahabat” yang mematikan bagi para penduduk di dunia, tidak terkecuali bagi mereka yang tinggal di Belanda. Duo perancang busana asal Belanda, Erik De Nijs dan Tim Smit, mencoba untuk mengatasi hal tersebut dengan cara mereka, yaitu dengan membuat sebuah jaket. Mereka merancang sebuah jaket pendeteksi polusi udara sekaligus penyedia oksigen yang mereka sebut sebagai Aegis Parka.
Dalam situs pribadi mereka, duo perancang yang menyebut diri mereka sebagai "Nieuwe Heren" mengatakan bahwa polusi udara perkotaan kini sudah sampai ke dalam tahap yang tidak terkontrol. Hal ini juga menyebabkan rentang hidup manusia berkurang karena polusi udara. Akhirnya mereka merasa perlu untuk merancang jaket yang melawan efek efek negatif tersebut.
Aegis Parka, sebut Nieuwe Heren mempunyai sensor yang mendeteksi molekul berbahaya dengan lampu LED yang terdapat pada permukaan jaket. Sebuah alat pernafasan yang terpasang di dalam jaket dan dilengkapi dengan karbon aktif akan membantu Anda untuk menghirup udara segar saat polusi disekitar anda telah melampaui batas aman.
Jaket dengan bahan Schoeller-ceraspace itu juga diklaim mampu membersihkan udara dengan proses fotokatalistik karena melibatkan solusi titaniumdioxide (TiO2). Bahan Schoeller-ceraspace yang dibuat dari partikel keramik juga diklaim lebih kebal lecet dan panas dibanding dengan bahan kulit yang saat ini sangat umum digunakan oleh jaket jaket yang beredar di Belanda. [pk/ya]
Subscribe to:
Posts (Atom)





